Sejarah Adu Sabung Ayam di Bali

Sejarah sabung ayam di bali

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, judi sabung ayam sudah terkenal dan cukup digemari oleh sebagian masyarakat di beberapa daerah. Di Bali sabung ayam dikenal dengan nama Tajen yang berasal dari kata Taji yang berarti benda tajam dan telah berkembang cukup mengakar dalam kehidupan masyarakat Bali.

Pada awalnya “Tajen” merupakan bagian dari ritual keagamaan tabuh atau prang sata dalam masyarakat Hindu Bali. Sabung ayam Bali atau yang populer disebut Adu Tajen merupakan pergeseran budaya dimana yang pertama adalah adu kelapa dua, dimana perayaan tersebut tersedia untuk umat Hindu di Indonesia, khususnya di Bali. Pucuk kepala umumnya memiliki telur ayam dan cengkeh serta sebagai media penyelenggaraan upacara.

Karena warga Bali senang dengan sabung ayam akhirnya banyak yang melakukannya di berbagai tempat, bukan hanya pada saat upacara berlangsung saja. Sehingga kini adu ayam kembali dikenal penduduk Indonesia dari segala kalangan.

Dulu, sabung ayam tidak pernah dikenal oleh umat Hindu di Bali. Sabung ayam merupakan suatu pergeseran budaya yang awalnya merupakan upacara antara dua buah kelapa di Bali, dimana upacara tersebut hadir pada umat Hindu di Indonesia. Dalam pucuk kelapa biasanya terdapat telur ayam kampung dan cengkeh sebagai sarana upacara. Asal mula ritual kelapa ini sebenarnya bersumber dari cerita Mahabharata, dimana ibu Kunti mengorbankan salah satu anaknya, Bima, untuk membunuh raksasa yang meresahkan masyarakat saat itu.

Untuk memperingati peristiwa tersebut, maka ia mengorbankan kelapa (pucuk kelapa) yang melambangkan pertarungan antara kebenaran dan kejahatan. Di satu sisi, Sadewa juga dikorbankan oleh Ibu Kunti untuk membunuh raksasa di tempat lain. Namun seiring dengan perkembangan zaman, terjadi perubahan upacara. Adu kelapa diganti dengan adu ayam (sabung ayam). Karena Kunti menggunakan putra kesayangan Bima dan Sadewa, maka jika orang Bali ingin ikut sabung ayam harus menggunakan hewan kesayangannya.

Selama Era Kerajaan Hindu

Sabung ayam disebut ‘Tajen’ yang berasal dari kata “tabuh rah” yang merupakan salah satu upacara adat masyarakat Hindu. Upacara ini bertujuan untuk memuliakan dan menyelaraskan hubungan manusia dengan Sang Buddha Agung. Dalam upacara ini menggunakan beberapa hewan peliharaan untuk mengorbankan bebek,kerbau, ayam,  babi, dan hewan ternak lainnya.

Cara pengorbanan hewan tersebut adalah dengan menyembelih leher hewan tersebut setelah dibacakan mantra oleh pemuka agama. Upacara adat yang menggunakan sabung ayam dari ayam Yadnya Prakerti, pada upacara adat ini bertujuan untuk mengadakan pertempuran suci dan ternyata tradisi ini sudah dilakukan sejak jaman dahulu. Ini didasarkan pada prasasti Batur dan prasasti batu pada tahun 944 Saka.

Sabung Ayam telah Digunakan di Tabuh Rah dan Tajen Sejak Lama

Dalam rentang sejarah Bali, sabung ayam telah dipraktekkan di masyarakat Bali sejak abad ke-10. Prasasti Sukawana memuat informasi tentang ritual keagamaan (yadnya). Selanjutnya dalam Prasasti Batur Abang diterjemahkan informasi terkait yang diambil (1011).

Menurut Andrik Hendrianto dalam “Judi Sabung Ayam di Bali”, skripsi di Universitas Indonesia, adu ayam tidak membutuhkan ijin dari penguasa seperti raja. Namun ritual ini tidak boleh dilakukan sembarangan.

Saat itu, masyarakat memasang taji (tajen) atau benda tajam di kaki salah satu ayam yang diadu. Untuk ayam lainnya hanya memasangkan bambu atau kayu pada kakinya. Pertarungan ayam dalam ritual tersebut disebut peperangan.

Tujuannya agar ada ayam yang mati agar darahnya membasahi bumi. Darah tersebut kemudian dicampur dengan tiga jenis cairan berwarna: putih (tuak), kuning (arak), dan hitam (berem). Pencampuran ini merupakan simbol pengingat bahwa umat manusia menjaga keseimbangan bhuwana alit (manusia) dengan bhuwana (alam semesta) yang agung. Ritual keagamaan ini disebut tabuh rah.

Sabung ayam di Tabuh Rah bukanlah tujuan utama. Ayam hanya menjadi salah satu cara untuk menuangkan (menuangkan) darah ayam. Jadi, ayam sejatinya tidak diadu dengan serius. Tabuh rah bisa dilakukan tanpa mengadu ayam. Sebagai gantinya, seseorang bisa langsung menyembelih ayamnya. Informasi ini terkandung dalam Prasasti Batu (1022).

Tajen Tidak Dilegalkan dengan Lembut di Indonesia

Tajen dulunya dilakukan di tempat khusus yaitu arena yang dilengkapi panggung penonton yang terbuat dari bambu. Namun sejak pemerintah melarang segala bentuk perjudian pada tahun 1981, tajen tidak lagi dilakukan di tempat tersebut. Sabung ayam dilakukan secara sembunyi-sembunyi di kebun kopi, kebun kelapa, ladang jagung, tumpukan jerami setelah panen, bahkan sudut kuburan.

Namun, kini masyarakat Indonesia yang ingin bermain adu ayam atau sabung ayam dapat bermain dengan aman tanpa perlu merasa khawatir maupun was-was. Sebab, bandar judi melihat peluang besar pada kegiatan ini dan memasukkannya sebagai salah satu permainan dan dikenal dengan nama sabung ayam s128.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.